media-pressindo
Tuhan Melihat Kebenaran, tapi Ia Pilih Menunggu
Tuhan Melihat Kebenaran, tapi Ia Pilih Menunggu
Couldn't load pickup availability
Di tangan Leo Tolstoy, kebenaran tidak selalu datang sebagai kilatan terang—ia sering hadir pelan, mengendap, dan menunggu saat yang paling menyakitkan untuk menyingkap dirinya.
Dalam kumpulan cerpen ini, Tolstoy menelusuri lorong-lorong gelap jiwa manusia: rasa bersalah, iman, penyesalan, dan harapan yang nyaris padam. “Pendosa yang Menyesal” memperlihatkan betapa rapuhnya manusia di hadapan dosa dan pengampunan. “Putra Baptis” menggugat makna tanggung jawab spiritual yang kerap dianggap sepele. Dalam “Tuhan Melihat Kebenaran, Tapi Ia Pilih Menunggu”, keadilan ilahi terasa sunyi—namun tak pernah benar-benar absen.
Sementara itu, “Tiga Orang Pertapa” menghadirkan iman yang polos namun mengguncang, jauh dari dogma yang kaku. “Jin Kecil dan Roti Keras” menyiratkan godaan dan kelaparan yang melampaui sekadar jasmani. Dan dalam “Tiga Kematian”, Tolstoy mengontraskan akhir hidup manusia dengan ketenangan alam yang tak tergoyahkan.
Gaya bertutur yang sederhana namun menghunjam menjadikan setiap kisah terasa seperti bisikan—tenang, tetapi mengusik nurani. Tolstoy tidak menawarkan jawaban mudah. Ia justru mengajak kita duduk dalam ketidaknyamanan, menatap diri sendiri, dan bertanya:
Jika kebenaran itu akhirnya datang, apakah kita siap menerimanya?
Penerbit Narasi (Imprint Media Pressindo)
13 x 19 cm, vi + 114 hlm
Share
